KTH SASAKA PATENGAN · PATENGAN · RANCABALI · KABUPATEN BANDUNG
PROFIL / SEJARAH

Perjalanan yang
Membentuk Sasaka.

Sejarah Sasaka Patengan adalah perjalanan masyarakat yang sudah lama hidup berdampingan dengan hutan, lalu bertumbuh melalui kelembagaan, usaha, dan kepastian pengelolaan.

01 / AWAL PERJALANAN

Dari Kebiasaan Turun-temurun
Menjadi Pengelolaan yang Terarah.

Masyarakat Desa Patengan telah lama memanfaatkan kawasan hutan melalui agroforestri. Kopi menjadi salah satu komoditas penting, bersama terong dan berbagai hasil lainnya.

Kegiatan tersebut kemudian berkembang dalam wadah kelembagaan. Seiring proses perizinan dan pendampingan, kelompok mulai membangun usaha yang tidak hanya menjual hasil mentah, tetapi juga mengolah produk dan mengembangkan jasa lingkungan.

Ilustrasi petani kopi
02 / JEJAK WAKTU

Jejak Perjalanan Sasaka.

Sebelum 2019

Agroforestri Menjadi Bagian dari Kehidupan

Jauh sebelum Persetujuan HKm terbit, masyarakat Patengan telah mengelola kopi, terong, dan komoditas lain melalui pola agroforestri.

2019

KUPS Kopi dan KUPS Wisata Dibentuk

KUPS Kopi dan KUPS Wisata dibentuk pada 2019 sebagai dua jalur usaha yang bertumpu pada potensi masyarakat dan kawasan.

2021

Fasilitasi Alat Proses Kopi

Pada 2021, BPSKL memberikan alat proses kopi senilai Rp50.000.000 untuk memperkuat kemampuan pengolahan hasil.

2022

Pelatihan Pengolahan Kopi

Pada 2022, Disnaker Kabupaten Bandung memfasilitasi pelatihan pengolahan kopi bagi anggota.

2024

Bibit Unggul dan Persetujuan HKm

Pada 2024, kelompok menerima dukungan bibit unggul kopi dari CDK 5 Provinsi Jawa Barat. Tahun yang sama, pada 18 Oktober, terbit SK.12400/MENLHK/10/2024 tentang Persetujuan Pengelolaan HKm seluas ±276 hektare.

Ilustrasi bumi perkemahan
03 / PERUBAHAN ARAH USAHA

Dari Hasil Kebun Menuju Nilai Tambah.

Seiring pengelolaan yang semakin tertata, Sasaka tidak berhenti pada budidaya. Kopi mulai diolah menjadi produk siap konsumsi, sementara anggota muda mengembangkan bumi perkemahan sebagai usaha jasa lingkungan.

Arah itu memperlihatkan satu hal penting: hutan tetap dijaga sebagai ruang hidup, sementara masyarakat membangun usaha yang lebih beragam dan memberi nilai tambah.